Planet Terpanas Lebih Panas dari Bintang

Rabu, 19/01/2011

Astronom yang terlibat dalam proyek Super Wide Angle Search for Planets (SuperWASP) telah menemukan planet terpanas bernama WASP-33b. Suhu planet tersebut lebih panas dari suhu beberapa bintang.

Keberadaan planet itu telah diduga sejak tahun 2006 lalu namun baru dikonfirmasi tahun 2010 kemarin. Diketahui, planet tersebut tergolong dalam jenis planet gas dengan massa kurang dari 4,5 kali massa Jupiter.

Berdasarkan observasi dengan William Herschel Telescope, suhu WASP-33b mencapai 3200 derajat Celsius. Suhu itu lebih panas daripada bintang katai merah yang bersuhu 700 derajat Celsius dan WASP-12b yang suhunya 2300 derajat Celsius.

Salah satu penyebab panasnya suhu planet itu adalah suhu bintang induknya yang juga panas. Astronom mengatakan, suhu bintang induk planet itu adalah 7160 derajat Celsius, lebih tinggi dari suhu matahari yang hanya 5600 derajat Celsius.

Sementara, sebab lain adalah kedekatan jarak orbit WASP-33b dengan bintang induknya. Dengan jarak hanya 7 persen dari jarak Merkurius-Matahari, planet ini seakan menjadi "ketularan" panas bintang induknya.

Studi tentang planet ini dipimpin oleh Alexis Smith dari Universitas Keele di Stafordshire, Inggris. Lewat studi ini, astronom juga mengetahui bahwa waktu revolusi planet ini sangat singkat, hanya 29,5 jam.

Drake Demming dari Goddard Space Flight Center NASA di Greenbelt, Maryland yang tidak terlibat penelitian ini mengatakan, "WASP-33b bisa membantu astronom menelaah planet panas yang karakteristisknya masih misteri."

Hal yang bisa dipelajari misalnya adanya planet berorbit dekat dengan bintangnya yang memiliki lapisan atmosfer luar lebih dingin dari lapisan dalamnya. Ini mengejutkan karena planet tersebut "dipanaskan" dari luar.

Deming mengatakan, fakta itu bisa berkaitan dengan adanya senyawa berbasis karbon yang mengubah cara atmosfer merespon radiasi. Senyawa kimia tertentu bisa terbentuk akibat sinar ultraviolet dari bintang.

"Ini pastinya akan menjadi planet yang ingin Anda lihat. Ini adalah kesempatan yang sangat langka untuk bisa mempelajari planet yang mengorbit pada bintang yang super panas," pungkas Deming dalam interview-nya dengan New Scientist. *Kompas.com 19012011

Read Users' Comments (0)

Redam Kebisingan dengan Jerami

Selasa, 23/11/2010

Peredam suara berbahan karpet? Itu sudah biasa. Tapi, bagaimana kalau peredam suara itu menggunakan bahan-bahan yang semula dianggap sampah, seperti jerami? Selain bisa meredam kebisingan dan membuat ruang dengar Anda nyaman, penggunaan bahan itu juga memiliki semangat daur ulang. Keren kan ....

Budi Santoso, Novita Sari dan Elis Kartika Sari, siswa-siswa dari SMK Boedi Oetomo 2 Gandrungmangu, Cilacap, Jawa Tengah berusaha meniciptakan peredam suara dari bahan jerami padi. "Kami merasa, jerami padi itu melimpah di daerah kami, tetapi pemanfaatannya kurang efektif. Makanya kami memanfaatkan jerami untuk peredam suara," kata Elis mengungkapkan alasan pembuatan peredam suara berbahan jerami tersebut, Senin (22/11/2010) di Depok.

Diakui para peneliti remaja itu, kreasi peredam suara berbahan dasar jerami ini bukanlah yang pertama. "Sebelumnya, pernah ada yang membuat peredam suara dari bahan jerami, tetapi perekatnya menggunakan semen, jadi berat. Di sini, kami menggunakan perekat dari bahan kanji dan resin," tandas Elis mengungkapkan nilai kebaruan dari penelitiannya.

Untuk melakukannya, Elis bersama rekannya mengumpulkan jerami dan mengeringkannya terlebih dahulu. Setelah kering, jerami tersebut dipotong menjadi bagian-bagian kecil. Selanjutnya, jerami dicampur dengan bahan perekat, ada juga yang dicampur dengan kanji yang dicampur air, ada pula yang dicampur dengan resin yang sudah dicampur dengan kloroform.

Jumlah jerami yang dicampur dengan perekat disesuaikan dengan ukuran peredam suara yang akan dibuat. Untuk ukuran 10 x 10 cm misalnya, jumlah jerami yang dibutuhkan adalah 100 gram. "Setelah dicampur, campuran jerami dan bahan perekat dicetak, bisa berbentuk bulat, bisa juga berbentuk kotak atau yang lain. Kemudian, bahan ini di-press dengan alat press," terang Elis menguraikan langkah selanjutnya.

Elis telah menguji keefektifan peredam suara berbahan jerami ini. Ia menggunakan sebuah kotak kayu yang dilubangi di bagian atasnya. Lubang bagian atas tersebut kemudian dihubungkan dengan pipa pralon kecil. Bagian kotak kayu diisi dengan sumber suara dan bagian tengah pipa diisi dengan peredam berbahan jerami. Selanjutnya, pengukuran suara setelah diredam dengan jerami dilakukan menggunakan alat bernama Sound Level Meter.

"Untuk campuran jerami dengan kanji, koefisien penyerapan suaranya adalah 0,27. Kalau campuran jerami dengan resin, koefisien penyerapannya adalah 0,51," jelas Elis. Bisa dikatakan, kebisingan yang ditimbulkan oleh sumber suara berkurang sekitar 27 persen dan 51 persen. Jika koefisien penyerapannya adalah 1, maka tak ada lagi suara dari sumber kebisingan yang terdengar. Saat kompas.com mencoba alat ini, volume suara memang berkurang, namun suara masih terdengar.

Lalu, di mana alat ini seharusnya diaplikasikan? Budi santoso mengungkapkan, "Bisa dipasang di dinding atau di bagian dalam mobil misalnya." Ia menjelaskan, jerami bisa dipasang di dalam mobil bagian atas dan samping, kemudian dilapisi bahan seperti fiber untuk menutupnya. Bahan jerami ini juga bisa dipakai untuk membuat ruangan kedap suara, menggantikan bahan peredam suara yang ada saat ini.

Ditanya tentang jumlah jerami yang dibutuhkan untuk melapisi bagian dalam mobil, Budi mengatakan bahwa timnya belum siap mengaplikasikan hingga sejauh itu. Menurutnya, masih perlu langkah lanjut untuk mewujudkannya.

Ide pembuatan peredam suara dari jerami ini dipresentasikan dalam Loba Karya Ilmiah Remaja ke 42 yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Depok, Jawa Barat. *Kompas.com 22112010

Read Users' Comments (0)

Ditemukan, Tata Surya Terbesar

Rabu, 25/08/2010

Sebuah sistem tata surya yang terdiri dari satu bintang dan tujuh planet terdeteksi berjarak 127 tahun cahaya dari bumi. Diperkirakan, tata surya ini terbesar di alam semesta, dan melebihi matahari.

Seperti dilansir Dailymail Rabu, 25 Agustus 2010, para astronom telah mempelajari sistem ini selama enam tahun dengan menggunakan instrumen penemu planet yang disebut HARPS spectrograph di La Silla, Chile.

"Ini merupakan penemuan luar biasa. Ini pun menunjukkan fakta bahwa kita memasuki era baru dalam penelitian exoplanet (planet di luar sistim tata turya): studi kompleks mengenai sestem planet," kata Christophe Lovis yang memimpin ilmuwan European Southern Observatory (ESO).

Dia menjelaskan bahwa studi pergerakan sistem planet ini mengungkap kompleksitas interaksi dari gravitasi antar planet. Temuan ini, kata dia, memberikan pencerahan bagi ilmuwan terkait evolusi jangka panjang sistem planet-planet ini.

Pakar astronomi telah mengkonfirmasi keberadaan lima planet di sistem tata surya yang baru ditemukan ini dan sedang meraba-raba dua lainnya karena belum terjangkau. Jarak induk bintang tata surya ini mengikuti pola umum sebuah tata surya seperti matahari. Bintang induknya dinamai HD 10180, berada di bagian selatan kumpulan bintang Hydrus, dan berjarak 127 tahun cahaya.

Lima planet dalam tata surya ini mengorbit dari enam sampai 600 hari. Jarak planet-planet dari HD 10180 bervariasi mulai 0,06 sampai 1,4 kali jarak bumi-matahari. Sementara massanya berkisar antara 13 sampai 25 kali bumi.

Dr. Lovis menambahkan para ilmuwan memiliki alasan cukup kuat untuk menyatakan bahwa dua planet lainnya memang ada. "Satu akan seperti Saturnus (dengan massa minimal 65 kali massa Bumi) dan mengorbit dalam 2.200 hari. Satu lagi, akan lebih kecil, sekitar 1,4 kali massa Bumi," jelasnya.

Planet ini, kata dia, mungkin seperti bumi yang dipenuhi bebatuan. Namun, ilmuwan ragu di planet ini ada kehidupan, karena terlalu dekat dengan bintang induk sehingga sangat panas. (kd) *VivaNews.com 250810

Read Users' Comments (0)

Membaca Dengan Indra Lain (Misteri Otak Tengah bag. 1)

Kamis, 22/07/2010

Oleh: Diantika PW
BUKAN sulap, bukan sihir, Naura mampu membaca beberapa kata yang tertera dalam sebuah kartu, tanpa menggunakan indera penglihatannya. Dia membaca dan menangkap bentuk, serta warna gambar dalam kartu itu dengan cara meraba, mencium, atau mendengarnya. Bahkan, terkadang dia nampak menjilati kartu tersebut, sedangkan kedua bola matanya tertutup kain tebal.

Sesekali, diusapkannya lembar demi lembar potongan kertas ini ke ubun-ubunnya. Siswi salah satu taman kanak-kanak swasta di Semarang ini bukanlah bocah yang memiliki cacat pada matanya. Apa yang dilakukan Naura juga bukan sebuah trik magic maupun tipu muslihat.

Sebagian orang pasti bertanya tanya, bagaimana mungkin Naura dapat membaca dengan cara meraba, sedangkan kartu tersebut bukan cetakan braille yang dikhususkan bagi tuna netra. Bagaimana mungkin juga dia dapat membaca dengan mendengar, sedangkan kartunya itu sama sekali tak bersuara.

Ternyata, kemampuan intuisi Naura menjadi tajam setelah dua kali dia mengikuti program aktivasi otak tengah. Manajer Anak Jenius Indonesia (AJI) Cabang Semarang, Usep Badruzzaman menerangkan, untuk membuka otak tengah, tidak diperlukan operasi khusus, melainkan dilakukan secara ilmiah.

"Mid brain activation ini dilakukan dengan aplikasi frekuensi suara, hingga membentuk gelombang otak Alpha. Gelombang ini akan muncul pada saat anak dalam keadaan rileks dan paling kreatif," terangnya.

Menurut Usep, dengan mengaktifkan otak tengah, dapat mencetak kemampuan luar biasa pada otak anak. Sebab, lanjut dia, jika otak tengah telah berfungsi dengan baik, maka secara otomatis akan tercipta keseimbangan kemampuan pada otak kiri dan otak kanannya. "Dengan demikian, anak dapat lebih baik menangkap ilmu dan pelajaran di sekolah, maupun dari lingkungannya," ungkap dia.

Lihat Makhluk Halus

Aktivasi otak tengah ini merupakan temuan luar biasa yang telah banyak diaplikasikan di Rusia, dan mulai berkembang di Jepang, Malaysia, dan kini di Indonesia. "Hanya anak di usia 5 hingga 15 tahun saja yang mampu menerima aktivasi ini," kata Usep yang membuka pelatihan aktivasi otak tengah di Komplek Ruko Semawis A15, Jalan Raya Kedungmundu Semarang.

Sayangnya, gemparnya otak tengah di Indonesia malah mengarah pada hal-hal magic. Ada beberapa orang tua yang enggan mengaktivasikan otak tengah anaknya, dengan alasan khawatir jika Si kecil juga akan mampu melihat makhluk halus setelah mendapatkan pelatihan aktivasi.

"Saya takut jika nantinya dia juga bisa melihat setan. Jadi saya ingin anak saya berkembang secara alamiah saja," ujar Maya (30), warga Semarang.

Ketakutan Maya, ditampik oleh Usep. Menurutnya, membuat otak tengah bekerja atau teraktivasi, sama sekali tidak berkaitan dengan hal-hal supranatural. Otak tengah yang sudah teraktivasi, akan memancarkan gelombang otak yang mirip radar. Akibatnya anak yang sudah teraktivasi otak tengahnya mampu melihat benda dalam keadaan mata tertutup. "Jika anak dapat melihat bentuk makhluk halus, saya yakin ini hanya presepsi anak saja," kilahnya.

Sedangkan untuk biaya aktivasi otak tengah di Semarang dan sekitarnya, rata-rata mencapai Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta. "Yang terpenting, pasca pelatihan aktivasi, orang harus rajin mengasah kemampuan anak. Jika tidak rajin dilatih, aktivasi yang telah diberikan akan sia-sia," imbuh Usep. * Suaramerdeka.com 150710

Read Users' Comments (0)

Bintang Ini 20 Kali Lebih Besar dari Matahari

Kamis, 15/07/2010

Suatu teleskop luar angkasa berhasil memotret sekumpulan bintang yang berada di galaksi lain. Salah satunya adalah sebuah bintang muda yang diyakini berukuran 20 kali lebih besar dari matahari.

Demikian ungkap ilmuwan yang bekerja sama dengan peneliti dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Peneliti NASA, Stefan Kraus dan astronom dari Universitas Michigan, Ann Arbor, mengungkapkan bahwa penemuan itu dalam rangka meneliti bagaimana bintang-bintang besar lahir di jagat lain.

Seperti dikutip di laman resmi NASA, Rabu 14 Juli 2010, Kraus mengungkapkan bahwa Teleskop Luar Angkasa milik NASA, Spitzer, berhasil merekam gambar suatu bintang yang dinamakan IRAS 13481-6124. Gambar dari Teleskop Spitzer itu juga didukung oleh pantauan dari stasiun teleskop di Chile.

Bintang itu berlokasi di konstelasi Centaurus, yang berjarak 10.000 tahun cahaya. Massa IRAS 20 kali lebih besar dari matahari. "Ini merupakan kali pertama benda seperti itu bisa terpantau," kata Kraus.

Melalui pencitraan Spitzer, para peneliti juga menyaksikan bahwa bintang itu dikelilingi oleh kumpulan gas dan debu sehingga menyerupai cakram. Fenomena seperti juga terjadi pada bintang-bintang yang lain. "Cakram itu sangat mirip dengan apa yang telah kami lihat pada bintang-bintang muda, yang bentuknya lebih kecil, namun tetap saja besar," kata Kraus.

Menurut dia, gambar dari Spitzer kali ini menghasilkan citra yang lebih jelas dari yang pernah diperlihatkan sehingga membantu para ilmuwan untuk memahami lebih baik akan lahirnya bintang di jagat lain. *vivanews.com 150710

Read Users' Comments (0)

Lowongan Kerja

Kamis, 09/06/2010

Kami perusahaan yang bergerak di bidang Micropayment Services (Pembayaran Rekening Secara Online ), dan sedang melakukan ekspansi wilayah se-Jawa & Bali untuk perluasan jangkauan Pelayanan & Pembukaan Loket/Outlet Pembayaran Rekening (Listrik, Telpon, Kartu kredit, dll). Membutuhkan segera tenaga marketing untuk memasarkan produk-produk kami yang akan ditempatkan di beberapa wilayah di Pulau Jawa & Bali..

KUALIFIKASI DAN PENDIDIKAN

  1. Strata pendidikan tidak dibatasi.
  2. Mampu bekerja di bawah preasure dan target
  3. Yakin & Memiliki kemampuan Komunikasi yang baik
  4. Familiar dengan Ms Office & Internet
  5. Memiliki pengalaman baik dalam Layanan Pelanggan / telemarketing / marketing
  6. Bersedia di tempatkan di seluruh wilayah Jawa atau Bali
  7. Memiliki SIM C
Kirim Lamaran & CV Anda ke:
Atau via Pos ke :
Graha Translink
Jl. Kedoya Kav 4 – 5
Mangliawan – Sawojajar II
Malang 65154

Tulis subjek dengan kode:

  • Marketing : MK
  • Kirim resume Anda dengan dokumen lain yang relevan dan foto terakhir (4 × 6, berwarna) menunjukkan kode posisi pada subjek
  • Harus dalam format WORDS, tidak lebih dari 300KB
  • Pengiriman Berkas Lamaran tidak lebih dari 16 Juni 2010 (baik via email maupun pos/surat)
  • Jika CV Anda tidak memenuhi kriteria dan lebih dari 300 KB, akan dihapus secara otomatis

Read Users' Comments (0)

Tutorial ePaper Ipad

Jum'at, 04/06/2010
Tutorial ePaper Ipad

Panduan menggunakan ePaper Kompas pada Ipad untuk memudahkan Anda menikmati pengalaman multimedia bersama Kompas. Klik disini

Read Users' Comments (0)